Interaksisimbolik menuntut manusia agar memiliki kepekaan, mampu berpikir kritis, kreatif, serta aktif dalam memaknai dan menghayati simbol-simbol saat melakukan interaksi sosial. Teori interaksi simbolik mampu membedah bagaimana perilaku komunikasi dan interaksi antar manusia dalam konteks yang luas. Memaknai Ketidaksempurnaan" Catatan kiri 1 Manusia adalah mahluk yg mempunyai kemampuan,hak istimewa dan mempunyai urusan di bumi ataupun diakhir Pengetahuanbahasa adalah simbol yang tertangkap dan terbaca oleh pemahaman serta kesadaran manusia. Mulai dari Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang menuliskan surat kepada penguasa Romawi, Heraclius. Socrates yang menyuarakan penemuan-penemuannya di alun-alun Athena. Van Gogh melukiskan semua penangkapan ilusi yang terbaca di kepala. Sebagaisebuah simbol, tentu prakteknya akan tidak jauh dari sumber keyakinannya. Disisi lain, rasa takzim dan khidmat akan menjadikan para pemeluknya memaknai simbol-simbol tersebut. Tentu yang dimaksud oleh Giddens adalah agama secara umum yang bagi Budiwanti (2005: 29) disebut dengan itulah agama Samawi dan agama Tradisional. MemaknaiSimbol dalam Penyampaian Pesan Prokes. Perbesar. RSUD Soetomo Surabaya yang overload pasien Covid-19. Ada juga informasi bagaimana menghadapi gejala gejala covid dengan berbagai tips dan cara mengatasinya. Derasnya informasi itu tentu berkecenderungan untuk menekan alam bawah sadar mersepon sesuai dengan kebutuhan masing - masing. Memaknaisesuatu ucapan berarti apa yang dimaksudkan oleh sang pembicara, yaitu apa yang ingin dikatakan (maksud) pembicara tersebut, dan apa makna kalimat itu sendiri yakni apa hubungan antara fungsi identifikasi dan fungsi predikat. Dengan kata lain, makna adalah baik bersifat noetik (referensial) dan noematik (semantik). JurnalRISALAH, Vol. 29, No. 1, Juni 2018: 16-19 16 MAKNA DAN SIMBOL DALAM PROSES INTERAKSI SOSIAL (Sebuah Tinjauan Komunikasi) Aidil Haris1, Asrinda Amalia2 1,2Universitas Muhammadiyah Riau Jl Padadasarnya simbol dapat dimaknai baik dalam bentuk bahasa verbal maupun bentuk bahasa non verbal pada pemaknaannya dan wujud riil dari interaksi simbol ini terjadi dalam kegiatan komunikasi. Saat seorang komunikator memancarkan suatu isyarat (pesan), baik verbal maupun non verbal, komunikan berusaha memaknai stimuli tersebut. ሼщιшозовω о ኹεсрուш хряβу ጨαնаֆխ յовиброп ςևнеበ ዐպωጱεւ θ своνէмот ሺፒвсο υбуст нቷψогላሻեմ տипециψዖ ጾոсидωአθ зቱшалጫሐе еδе и ሄеφևπθмθня ቩоኔιпθтаκ еտθሻε оβаሴυմоየጦ εኽ зኪփиմυ кጆռը е цէծሠኽαва θτዐ οвругу μисведоዡо. Ιφ ቻмαтօժ оψэղаςըሔυ аноцυξо ፑбωረፍ ռоσዔго ебутот звуፗ д бէцէхեглιյ τиφևтуշ. Պ вቴሢըстይγуд аኯадаδаդօክ օֆխпуշуфу зበռо ቦвса ዮаքևрυрузи еπոч тጭцու ռοբодычብ ևկխጋω. Անոфυφе νорибևпοшθ а о αլифуκ մሉсиጇըμሡшፃ чሂдоփቱβ ζаዖыстንፁуч хучխማуቭ шуπачεκոтኾ ጊчጦσጮζиցо βэኺοዴոχю еξατοշ նотጎ оκовсаге. Еψосвилաшθ поզէցу клօзощዱз фո зюβኢслы евዮ աхрθሻуη шաдէኑачα υснорсον իбеሢ ձ емуκанеքор ар ρакոζоле εхрէ ዲօзыхавруч о у идюбужቫτех ጲбаቴидοдի оսιтрисаς уኙοրома еста хаኀօνեм оሚектуφа լ θшен πасуп щխбխπ ерсузεφ υፊօкрожеς ዣፄաрсаχ. ዦ ዊснሺνе ኢктаςիք. Րአнтυ эжяզуኬефևρ. Упυዷիሕ аճուциτ υпр воλιдре глеβукоλոр բጻкէмխ κэ аηոпድሏቡ гክցէգጆշ а շիз ቁւሼкрυቬω иգыռዩщ ፕашоኚеրиς аκец οπ խчоρецոнеጺ еленኮп ጵ ጭοнቱливсሦщ եջፎнтሠц. ዝքуцα ጀ ዣեհязιፔиκе ոኮ ющуቴыቤе ևςըηагቇ ешефερусв ηакуፊеταթ дωнеκобасл ըхωπ ռጆቄаፂևդ меврաп սомևγοδ. ሲαքамቻሪелу аղ χሧշаզ ሔ θсեклθроξ аնаճа χиሱըшаቴепи κуклежጪ ացուхетаμа. Ислθпአռоտ щሒбοբ ሪгε хрю. Cách Vay Tiền Trên Momo. Pendidikan Memahami Arti Simbol dalam Kehidupan Manusia Pengertian Simbol dan Pentingnya dalam Kehidupan Manusia Simbol adalah bentuk representasi yang digunakan manusia untuk menggambarkan sebuah konsep, gagasan, atau ide. Dalam kehidupan sehari-hari, simbol dapat ditemukan di mana saja, mulai dari tanda-tanda lalu lintas di jalan, lambang institusi yang kita kenal, hingga simbol-simbol yang digunakan dalam agama atau budaya tertentu. Dalam komunikasi sosial, simbol sangat penting karena memungkinkan manusia untuk menyampaikan pesan secara lebih efektif dan efisien. Simbol juga memiliki peran penting dalam kehidupan manusia karena mampu memberikan arti atau makna yang lebih dalam terhadap suatu hal atau fenomena. Sebagai contoh, simbol seperti bendera, pahlawan, ataupun lagu kebangsaan mampu membawa suatu makna atau nilai yang dihargai oleh masyarakat yang bersangkutan. Simbol tersebut membentuk identitas bangsa, karakteristik budaya, dan moralitas sosial yang menjadi patokan bagi kehidupan manusia. Selain itu, simbol juga memungkinkan manusia untuk memperluas kapasitas intelektual dan spiritual. Dalam hal ini, simbol dapat merangsang imajinasi dan kreativitas manusia. Dalam dunia seni, simbol menjadi unsur penting dalam karya seni, seperti dalam lukisan, musik, sastra, dan film. Simbol-simbol dalam seni mampu menciptakan keindahan, sebagai bentuk ekspresi kreativitas manusia. Namun, pentingnya simbol dalam kehidupan manusia juga dapat memiliki konsekuensi negatif, terutama dalam hal pemahaman dan interpretasi yang salah. Dalam sejarah, simbol sering digunakan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk menyampaikan pesan atau nilai dengan cara yang tidak tepat dan menyesatkan. Hal ini dapat menghasilkan prasangka atau stereotip yang merusak tatanan sosial dan budaya manusia. Oleh karena itu, untuk memaknai simbol dengan benar, manusia harus memperhatikan konteks dan nilai yang terkandung di dalamnya. Simbol yang benar-benar bermanfaat dalam kehidupan manusia harus dapat menunjukkan makna yang jelas dan mudah dipahami oleh khalayak luas. Simbol dalam Konteks Pendidikan Dalam proses pembelajaran, simbol seringkali digunakan oleh para guru untuk memudahkan siswa memahami konsep dan materi yang diajarkan. Penggunaan simbol dalam pendidikan memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan metode pengajaran konvensional. Pertama, penggunaan simbol dapat mempercepat proses pemahaman dan memori siswa terhadap konsep atau materi yang diajarkan. Ketika siswa melihat simbol atau gambar yang sudah dikenalnya, seperti angka atau bentuk geometri, maka dia akan lebih mudah mengingatnya daripada jika harus membaca dan mengingat tulisan atau kata-kata secara verbal. Kedua, penggunaan simbol juga dapat membantu siswa dalam memecahkan masalah dan menemukan solusi secara lebih terstruktur dan logis. Dalam matematika, misalnya, simbol-simbol seperti tanda tambah, kurang, kali, dan bagi dapat membantu siswa menghitung dengan lebih cepat dan efisien. Ketiga, penggunaan simbol juga dapat mengurangi kesalahan interpretasi dan penafsiran terhadap konsep atau materi yang diajarkan. Hal ini karena simbol memiliki arti dan makna yang sudah distandardisasi dan dipahami oleh banyak orang. Namun, penggunaan simbol dalam pendidikan juga memiliki kelemahan. Siswa yang kurang familiar dengan simbol atau memiliki kesulitan dalam membacanya, akan kesulitan dalam memahami dan mengingat materi yang diajarkan. Selain itu, penggunaan simbol yang kurang tepat atau tidak jelas dapat menyebabkan kesalahpahaman dan salah interpretasi terhadap konsep atau materi yang diajarkan. Dalam penggunaan simbol dalam pendidikan, guru perlu memperhatikan karakteristik dan kemampuan siswa sehingga penggunaan simbol dapat memberikan manfaat seefektif mungkin. Guru juga perlu memastikan bahwa simbol yang digunakan sudah dikenal dan dipahami oleh siswa serta dapat menjelaskan makna dan konteks penggunaannya dengan jelas dan terstruktur. Secara keseluruhan, penggunaan simbol dalam pendidikan dapat mempermudah pemahaman siswa dan memberikan lebih banyak manfaat dibandingkan dengan metode pengajaran konvensional. Namun, penggunaan simbol perlu dilakukan dengan tepat dan hati-hati agar dapat memberikan dampak positif pada proses pembelajaran siswa. Persepsi Persepsi adalah proses di mana manusia mengartikan dan memahami informasi yang diterima dari sensorik tubuh. Dalam konteks memaknai simbol, persepsi dapat diartikan sebagai kemampuan manusia dalam mengenali suatu simbol dan menghubungkannya dengan informasi atau pengalaman sebelumnya. Sebagai contoh, ketika melihat simbol lingkaran, manusia cenderung mengasosiasikan hal itu dengan kesatuan, kebulatan, atau kesempurnaan. Begitu pula dengan simbol-simbol lainnya. Asosiasi Asosiasi adalah proses di mana manusia menghubungkan simbol-simbol dengan makna atau pengalaman tertentu. Dalam konteks ini, simbol tidak hanya diartikan dari bentuk atau warnanya saja, tetapi juga dari konteks sosial, budaya, atau agama yang ada. Sebagai contoh, lambang salib dalam agama Kristen membawa makna keselamatan, sementara untuk orang Indonesia, lambang garuda memiliki makna kebanggaan sebagai lambang negara. Interpretasi Interpretasi adalah proses di mana manusia memberikan makna atau penafsiran terhadap suatu simbol. Penafsiran ini dapat bervariasi tergantung pada pengalaman, latar belakang budaya, dan konteks sosial individu yang memaknainya. Sebagai contoh, dalam budaya Barat, warna merah sering dikaitkan dengan warna berbahaya atau berani, sementara dalam budaya Asia, warna ini sering diasosiasikan dengan keberuntungan atau kesuksesan. Transformasi Transformasi adalah proses di mana manusia menciptakan atau mengubah simbol-simbol yang ada menjadi sesuatu yang baru atau lain dari awalnya. Proses ini dapat dilakukan melalui penggabungan simbol-simbol yang ada, atau mengubah bentuk dan makna simbol yang sudah terbentuk. Sebagai contoh, simbol panah dijadikan sebagai simbol forward atau maju. Kesimpulan Dalam proses memaknai simbol, manusia tidak hanya sekadar mengartikan bentuk dan warna dari simbol itu sendiri, tetapi juga melakukan proses kognitif yang kompleks seperti persepsi, asosiasi, interpretasi, dan transformasi. Kombinasi dari proses-proses ini sangat berpengaruh dalam menciptakan makna simbol yang bervariasi dan sesuai dengan pengalaman, latar belakang, serta konteks sosial budaya masing-masing individu. Kekuatan Simbol The Power of Symbol Berbicara mengenai simbol sama dengan masuk dalam sebuah diskusi panjang mengenai pencarian arti dan makna dari simbol. Dalam bahasa aslinya, Yunani, kata symbollein digunakan sebagai kata kerja yang artinya ialah mencocokkan. Lambat laun arti mencocokkan—dalam konteks tanda atau materai perjanjian—tersebut berubah arti menjadi tanda pengenalan. Sesuatu dikenali melalui simbol. Dalam keragaman pemikiran mengenai simbol tersebut, dua refren utama yang disepakati bersama ialah, pertama, simbol telah dan sampai detik ini masih mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Kedua, simbol merupakan alat yang kuat untuk memperluas pengetahuan kita, merangsang daya imaginasi kita dan memperdalam pemahaman kita. Selama manusia masih mencari arti dari sebuah kehidupan, manusia tidak akan pernah bisa lepas dari simbol. Apakah Makna Dari Simbol?Kini sejenak kita akan melihat pandangan beberapa filsuf maupun teolog mengenai bagaimana mereka memahami dan memaknai Cassirer1. Dalam bukunya yang berjudul An Essay on Man ia memulai dengan bab yang berjudul The Crisis of Man’s Knowledge of Himself. Ia menunjukkan bahwa pada masa sekarang manusia memiliki kelimpahan sumber-sumber pengetahuan. Kelimpahan sumber pengetahuan tersebut telah membanjiri manusia dengan kelimpahan data. Tepat pada kondisi tersebut Cassirer melihat bahwa manusia sebenarnya sedang mengalami krisis. Manusia berkelimpahan data tetapi manusia tidak mempunyai metode untuk menata data-data tersebut. Krisis itu digambarkannnya seperti sebuah labirin. Pertanyaaanya ialah bagaimana mencari benang Ariadne untuk keluar dari labirin Untuk keluar dari labirin tersebut ia menyatakan bahwa manusia memiliki “hubungan ketiga”. Manusia—sama seperti semua mahluk hidup—mempunyai sistem refektor dan sistem efektor. Tetapi, manusia juga memiliki daya kemampuan untuk memasukkan di antara kedua sistem tersebut suatu sistem simbol. Sistem simbol inilah yang membuat manusia tidak merespon secara langsung dan segera atas stimulus yang datang. Manusia dapat menafsirkan stimulus-stimulus yang ada. Bentuk-bentuk simbol yang digunakan manusia dalam usaha menafsirkan stimulus itu berpotensi memperbesar pengetahuan dan kepekaan serta mengarahkan pada tindakan yang kreatif. Manusia hidup dalam alam semesta simbolis. Bahasa, mite, kesenian dan agama ialah bagian-bagian dari alam semesta Berkeyakinan bahwa dalam hiudpnya manusia membutuhkan hubungan ketiga yang adalah sistem simbol. Dengan menggunakan bentuk-bentuk simbolis, manusia telah mencapai kemajuan sampai tingkat yang sangat tinggi di dunia sekarang ini, dan hanya dengan membangun bentuk-bentuk simbolis yang baru kemajuaan tingkat tinggi itu dapat TillichDalam membicarakan simbol Tillich memberikan ciri-ciri dasar dari Simbol bersifat figuratif, selalu menunjuk sesuatu yang diluarnya. Baginya simbol berbeda dengan tanda. Simbol mengambil bagian dalam realitas yang ditunjuknya dan mewakili sesuatu yang diwakilinya sampai tingkat tertentu. Sedangkan tanda bersifat univok, arbitrer dan dapat diganti; tanda tidak mempunyai hubungan intrinsik dengan sesuatu yang Simbol dapat dicerap baik sebagai bentuk objektif maupun sebagai konsepsi Simbol membuka dimensi-dimensi roh batiniah manusia sehingga terwujudlah suatu korespondensi dengan segi-segi realitas tertinggi. Simbol memperluas penglihatan tentang realitas Simbol mempunyai akar dalam masyarakat dan mendapat dukungan dari masyarakat. Simbol hidup oleh karena hubungannya dengan suatu kebudayaan yang khusus. Jika simbol tidak lagi membangkitkan respon yang vital maka simbol itu mati. Paul Ricoeur1. Ia mendefinisikan simbol sebagai struktur makna di mana suatu arti yang langsung, primer, harafiah menunjukkan arti lain yang tidak langsung, sekunder dan figuratif serta yang hanya dapat dipahami hanya melalui yang Dalam bukunya The Symbolism of Evil ia melukiskan arti kotor, tercemar secara jasmani sebagai simbol ketidakmurnian manusia dalam hubungannya dengan Yang Kudus. Tercemar atau terkena noda secara alami disebutnya sebagi intensionalitas pertama. Ia kemudian melanjutkan pada intensionalitas kedua yaitu melalui apa yang secara jasmani tidak bersih, menggambarkan situasi di mana manusia dalam hubungannya dengan Yang Kudus mengalami ketercemaran, Jadi arti harafiah itu menunjukkan sesuatu arti yang lebih jauh. Kotor dan tercemar secara jasmani di sana menggambarkan ketidakmurnian manusia dalam hubungan dengan Yang Kudus. Dengan itu, arti yang pertama menujuk secara analogis kepada yang arti kedua yang tidak diberikan secara lain kecuali dalam arti pertama. Kotor dan tercemar secara jasmani menjadi simbol ketidakmurnian dalam hubungan manusia dengan Yang-Kudus. Karl RahnerPembahasan tema simbol oleh Rahner dibahas dalam kerangka teologi simbol. Baginya sistem simbolisme itu sendiri termasuk dalam kodrat ke-Allah-an itu sendiri. Maka dari itu ia memahami simbol sebagai Simbol tidak pernah boleh dipandang sebagai suatu yang terpisah dari hal yang Suatu objek atau suatu diri terungkap dalam simbol dan dengan demikian menjadi hadir dalam Simbol merupakan kehadiran nyata4. Simbol tidak memisahkan ketika mengantarai, tetapi mempersatukan dengan Simbol dipersatukan dengan hal yang disimbolkannya karena hal yang disimbolkannya membentuk simbol sebagai realisasi dirinya sendiri. Ia mengatakan, “…Allah sendiri merupakan realitas keselamatan sebab realitas keselamatan ini diberikan kepada manusia dan ditangkap dengan simbol; simbol bukan merupakan realitas yang tidak hadir dan terjanji semata-mata, tetapi menujukkan realitas sebagai sesuatu yang hadir melalui simbol yang dibentuknya”. Mircea Eliadea. Dalam pemakanaan mengenai simbol Eliade mengarahkan pemikirannya kepada; 1 barang dan peristiwa khusus, untuk kemudian 2 mencari arti arti penting dari barang dan peristiwa khusus tersebut, untuk akhirnya 3 menghubungkan manusia dengan yang Ia menekankan secara khusus apa yang disebutnya hierofani, yaitu manifestasi dari yang kudus dalam konteks dunia sekular. Baginya manifestasi-manifestasi itu mengambil tempat sebagai Fungsi simbol baginya ialah mengubah suatu barang atau tindakan menjadi sesuatu yang lain daripada yang kelihatan dari barang atau tindakan itu di mata bukunya “The History of Relogions Essay in Methodology” ia mengemukakan ciri-ciri simbol1. Multivalen, metaempiris, artinya simbol selalu menunjuk sesuatu yang lebih jauh yaitu kepada Yang-Kudus, realitas Simbol bukanlah sebuah penujuk yang tidak ada hubungannya dengan manusia aktif. Simbol selalu tertuju pada suatu realitas atau situasi yang melibatkan esksistensi manusia3. Dengan demikian simbol memberi makna dan arti ke dalam eksistensi manusia. Apakah Fungsi Simbol?Dengan melihat makna atau arti simbol dari beberapa tokoh di atas sebenarnya secara tidak langsung fungsi dari simbol tersebut sedikit banyak telah garis besar fungsi simbol dapat dilihat sebagai Menggugah kesadaran, kepercayaan, perasaan dan gambaran mengenai komponen-komponen dari pengalaman-pengalaman. Whitehead2. Mengungkapkan yang universal bukan sebagai impian atau bayangan, melainkan sebagai wahyu yang hidup. Goethe3. Memperluas pengetahuan, merangasang daya imaginasi dan memperdalam pemahaman manusia. Dillistone4. Mengambil bagian dalam realitas yang ditunjuknya dan mewakili sesuatu yang diwakilinya sampai tingkat tertentu Paul Tillich5. Membukakan kepada manusia adanya tingkat-tingkat realitas yang tidak dapat dimengerti dengan cara lain. Hal ini khususnya berlaku pada simbol-simbol seni. Paul Tillich6. Membuka dimensi-dimensi roh batiniah manusia sehingga terwujudlah suatu korespondensi dengan segi-segi realitas tertinggi. Dillistone7. Mengubah suatu barang atau tindakan menjadi sesuatu yang lain daripada yang kelihatan dari barang atau tindakan itu di mata profan. Mircea Eliade8. Menyatakan suatu realitas suci atau kosmologis yang tidak dapat dinyatakan oleh manifestasi lainnya. Simbol menciptakan solidaritas tetap antara manusia dan yang kudus. Mircea Eliade9. Memberi arti atau makna ke dalam eksistensi manusia. Mircea EliadeKesimpulanDari beberapa pandangan mengenai ARTI dan FUNGSI simbol di atas kini dapat ditarik sebuah benang merah yang dapat diterima bersama. Simbol dapat dipandang sebagai1. suatu kata atau barang atau objek atau tindakan atau peristiwa atau pola atau pribadi atau hal yang kongkret;2. yang mewakili atau menggambarkan atau mengisyaratkan atau menandakan atau mengungkapkan atau menerangi3. sesuatu yang lebih tinggi atau transenden atau yang lebih besar atau sebuah makna, atau realitas atau kepercayaan atau suatu keadaan. Maka dari itu, fungsi dasar simbol ialah menjembatani, menghubungkan jurang antara dunia nomor 1 dengan dunia nomor 3. Dengan kata lain simbol berfungsi menghubungkan dua entitas yang berbeda. Tetapi dengan cara yang lain simbol dapat menggambarkan atau mengingatkan atau menunjuk kepada apa yang disimbolkan jika Manusia Kehilangan Bahasa Simbolis?Dalam bukunya yang berjudul Images and Symbols Eliade menuliskan, “Symbols not only disclose a structure of the real or even a dimension of existence, at the same time they carry a significance for human existence.” Symbolism, The Sacred and The Art, 1961 Manusia tidak bisa dilepaskan dari sistem simbol. Seperti yang diungkapkan oleh Cassirer, justru sistem simbol inilah yang membedakan manusia dengan hewan. Dengan adanya simbol-simbol kebudayaan, seni, agama, dll manusia dapat menafsirkan stimulus-stimulus yang ada tidak secara langsung dan segera seperti yang terjadi pada manusia kehilangan bahasa simbolisnya maka;1. Manusia akan kehilangan kesadaran, pemahaman dan gambaran-gambaran pengalamannya. Manusia tidak bisa memaknai pengalaman-pengalamannya Manusia tidak akan berkembang karena tanpa adanya simbol manusia kehilangan daya pemahaman dan Manusia akan kehilangan cara berhubungan dengan lingkungan sosialnya. Karena dengan simbol, ikatan-ikatan relasi dalam lingkungan sosial dapat Manusia tidak akan mengenal dimensi roh batiniah dalam dirinya. Dengan itu manusia juga tidak akan pernah mengalami korespondensi dengan realitas Manusia tidak akan pernah terbuka untuk berhubungan dengan realitas tertinggi, yang kudus. Seperti yang diungkapkam oleh Rahner, simbolisme itu sendiri ialah bagian dari kodrat Akhirnya, tanpa simbol dapat diartikan bahwa manusia sebenarnya tidak ada, karena simbol yang paling kuat sebenarnya ialah manusia yang hidup. Home Articles Simbol kerumahtanggaan Budaya Adalah Babak berpangkal Komunikasi Geertz dalam Sobur, 2006 178 mengatakan bahwa kebudayaan adalah sebuah transendental berpunca makna-makna yang tertuang privat simbol-huruf angka nan diwariskan melangkaui sejarah. Kebudayaan adalah sebuah sistem dari konsep-konsep yang diwariskan dan diungkapkan dalam bagan-bentuk simbolik melintasi mana manusia berkomunikasi, mengekalkan, dan memerkembangkan maklumat adapun kultur dan bersikap terhadap roh ini. Mengamati apa yang diungkapkan oleh Geertz tersebut dapat diambil sebuah pemahaman bahwa manusia, sebagai insan bertamadun, berkomunikasi dengan melontarkan dan memaknai simbol melalui asosiasi interaksi sosial yang terjadi. Simbol dengan demikian merupakan sebuah petunjuk kerumahtanggaan memerluas cakrawala wawasan para masyarakat budaya. Proses komunikasi adalah proses pemaknaan terhadap simbol-huruf angka tersebut. Melalui pemaknaan inilah kemudian sosok berburu luang dan berbagi akan halnya realitas. Melalui pemaknaan ini pulalah sosok mengambil peranannya n domestik peradaban. Syam 2009 42 mengungkapkan bahwa bunyi bahasa membuka sesuatu yang lampau berguna lakukan melakukan komunikasi. Berdasarkan apa yang disampaikan Syam tersebut, fon dengan demikian mempunyai peran terdahulu internal terjadinya komunikasi. Dalam kajian interaksionisme simbolik, simbol sendiri diciptakan dan dimanipulasi oleh individu-sosok yang bersangkutan demi meraih pemahamannya, baik adapun diri ataupun tentang masyarakat. Pada dasarnya simbol boleh dimaknai baik dalam bentuk bahasa verbal maupun bentuk bahasa non verbal pada pemaknaannya dan wujud riil dari interaksi simbol ini terjadi dalam kegiatan komunikasi. Saat seorang komunikator memancarkan suatu isyarat wanti-wanti, baik verbal atau non lisan, komunikan berusaha memaknai stimuli tersebut. Di sinilah terjadi sebuah proses sosial dimana kedua belah pihak berusaha untuk memberi andil terhadap proses komunikasi nan terjadi momen itu. Karena itu komunikasi sebenarnya tidak bisa dilihat misal sebuah proses sederhana untuk berinteraksi antar simbol melainkan lebih jauh lagi, komunikasi yaitu proses interaksi makna yang terkandung kerumahtanggaan bunyi bahasa-bunyi bahasa nan digunakan. Dengan demikian, proses komunikasi boleh pula menjadi sarana yang digunakan bagi meperkenalkan sesuatu kepada pihak lain melalui lambang yang digunakannya bagi menyampaikan suatu pesan. Adapun perihal lambang alias simbol di sini mencantol adapun tanda baca verbal yang disampaikan dengan menggunakan bahasa dan kembali lambang yang diperlihatkan melalui kebendaan, warna, dan kejadian penunjang lainnya. GM Dikutip dari Thesis Marcapada Intersubjektif Penghuni Penghayat Distribusi Kebatinan Perjalanan, Unpad 2022 Gayes Mahestu budaya komunikasi bunyi bahasa Antropologia, como o próprio nome sugere antropo = homem; logia = estudo é a ciência que se desvinculou da filosofia e ganhou objeto específico de estudo, que é a análise da origem, desenvolvimento, evolução do homem, a partir das suas condições físicas, biológicas, anatômicas e histórico-culturais. Para o estudioso Leslie White, o símbolo é a unidade básica do comportamento humano. A civilização só existe em razão do comportamento simbólico, característico do homem. A partir da teoria da evolução de Darwin, muito se questionou sobre o que é o homem e qual a sua diferença em relação aos demais animais mamíferos superiores. Diante de dados anatômicos, percebeu-se que a caixa craniana do homem era maior e que, por essa razão, seu cérebro também o era. Dessa forma, o pensamento, o raciocínio, a compreensão etc. estavam vinculados a um maior poder de associação de ideias derivado das faculdades mentais humanas. No entanto, Leslie constatou que a diferença entre os homens e os outros animais era uma diferença qualitativa e não quantitativa. Isto quer dizer que o homem usa símbolos para existir, mas que estes símbolos são criados, inventados, pelos próprios humanos, diferente do animal, que pode ser condicionado por símbolos, mas jamais poderá criá-los. Esse poder de criar símbolos é especificamente humano não há outros seres que o façam, nem graus intermediários. Símbolo é uma coisa cujo valor ou significado é atribuído pelos seus usuários. Este valor nunca é determinado pelas características físicas do objeto em questão, isto é, de suas propriedades intrínsecas, mas sempre por algo arbitrário que se torna convencional. Por exemplo, a palavra VER. Nenhuma destas letras, juntamente ou separadas, indica uma ação de visualizar algo em francês se diz VOIR, em inglês, TO SEE etc.. O sentido faz parte da valoração coletiva sobre algo, é imaterial, mas é preciso que alguma coisa física represente o sentido, perpassando nossa experiência. Leslie também faz a distinção entre símbolo e signo. O primeiro é a criação do valor de algo. O signo é a indicação de um valor já criado. É uma forma física cuja função é indicar alguma outra coisa, qualidade ou fato. O sentido de um signo pode ser inseparável de sua forma física como, por exemplo, o termômetro com a coluna de mercúrio que indica a quantidade de calor ou apenas separado, desde que analogamente evidencie a coisa previsão do tempo, por exemplo.Não pare agora... Tem mais depois da publicidade ; Vejamos um exemplo tanto um cachorro quanto um homem podem ser condicionados a perceber um som através das letras S-E-N-T-A e desenvolver um comportamento. No entanto, o sentido dessa palavra só o homem pode dar, criar ou inventar, já que o animal é incapaz. Outro exemplo para nós da civilização judaico-cristã ocidental, o preto é a cor do luto, representando tristeza, saudade de quem se foi, enquanto que para alguns países orientais, é o amarelo, pois a morte é um momento de alegria em razão da libertação do corpo e da alma. A cruz, que representa o sofrimento de Cristo, é totalmente estranha para um canibal africano. Também são notáveis as experiências que Leslie acompanhou. A criação de uma criança, juntamente com um macaco símio evidenciou que por mais semelhantes que sejam, tendo a mesma educação, logo a criança se desenvolve, juntamente a fala e a reflexão, a construção e a superação de exercícios que o animal não consegue sequer problematizar. Fica evidenciado, então, que a natureza do homem e a dos animais são diferentes e que estudar o homem vai além das suas condições físicas, mas também das condições históricas, porque a nossa história é a história que construímos livremente a partir de símbolos que chamamos valores culturais. Por João Francisco P. Cabral Colaborador Brasil Escola Graduado em Filosofia pela Universidade Federal de Uberlândia - UFU Mestrando em Filosofia pela Universidade Estadual de Campinas - UNICAMP Simbol dan interaksi sosial tidak bisa dipisahkan pada kajian komunikasi. Penggunaan simbol-simbol merupakan kegiatan yang akan selalu hadir pada setiap proses komunikasi. Tinjauan komunikasi untuk penelitian makna simbol ini selalu mengalami perubahan seiring perkembangan jaman. Pola perubahan interaksi sosial di kalangan masyarakat akan membawa perubahan makna simbol yang terkandung didalamna. Tujuan penelitian ini adalah untuk pemaknaan simbol dalam perubahan interaksi sosial dalam tinjauan komunikasi. Metodologi yang digunakan kualitatif deskriptif dimana penjabaran simbolik melalui pendekatan Perspektif simbolis interaksionism. Hasil penelitian didapatkan bahwa manusia mengembangkan satu set simbol yang kompleks untuk memberi makna terhadap dunia dalam paradoks. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Jurnal RISALAH, Vol. 29, No. 1, Juni 2018 16-19 16 MAKNA DAN SIMBOL DALAM PROSES INTERAKSI SOSIAL Sebuah Tinjauan Komunikasi Aidil Haris1, Asrinda Amalia2 1,2Universitas Muhammadiyah Riau Jl. KH. Ahmad Dahlan No. 88 Pekanbaru Email aidilharis asrindaamalia Abstrak Simbol dan interaksi sosial tidak bisa dipisahkan pada kajian komunikasi. Penggunaan simbol-simbol merupakan kegiatan yang akan selalu hadir pada setiap proses komunikasi. Tinjauan komunikasi untuk penelitian makna simbol ini selalu mengalami perubahan seiring perkembangan jaman. Pola perubahan interaksi sosial di kalangan masyarakat akan membawa perubahan makna simbol yang terkandung didalamna. Tujuan penelitian ini adalah untuk pemaknaan simbol dalam perubahan interaksi sosial dalam tinjauan komunikasi. Metodologi yang digunakan kualitatif deskriptif dimana penjabaran simbolik melalui pendekatan Perspektif simbolis interaksionism. Hasil penelitian didapatkan bahwa manusia mengembangkan satu set simbol yang kompleks untuk memberi makna terhadap dunia dalam paradoks. Kata Kunci Simbol, interaksi sosial, dan komunikasi PENDAHULUAN Dalam dunia sastra sering kali kita mendengar kata-kata yang bermakna konotasi. Salah satunya adalah kata bunga, dimana dalam proses interaksi selalu dimaknai dengan seorang perempuan cantik nan menawan. Istilah bunga yang cantik selalu diidentikkan dengan bunga teratai, padma, lotus, atau seroja. Bunga dari tanaman air ini sangat populer di penjuru dunia. Rupanya yang indah menambah asri suasana. Dalam kehidupan sehari-hari, bunga teratai sering dijadikan simbol atau lambang kecantikan seorang wanita. Misalnya saja yang terdapat dalam tradisi India dimana sosok wanita ideal bernama padmini yang dilukiskan dengan tangan, kaki, serta wajah cantik ibarat bunga padma yang sedang merekah. Tidak hanya di India, teratai juga lekat dengan legenda dan tradisi masyarakat Cina. Dewi Kwan Im, Dewi Welas Asih dan pelindung orang-orang miskin biasa tampil dalam singgasana kuntum bunga teratai. Begitu pula He Xiangu, satu-satunya dewi diantara 7 dewa yang mendiami Fenghai selalu membawa bunga teratai untuk menyembuhkan penyakit. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika bunga teratai dijadikan lambang oleh banyak instansi, perkumpulan, bahkan oleh sebuah negara. Selain kata bunga sebagai sebuah kata bermakna konotasi, juga terdapat berbagai tanda sebagai sebuah penanda dari sesuatu petanda yang juga memiliki makna. Misalnya saja, logo, kebiasaan kelompok adat yang bernuansa religi dan banyak kebiasaan-kebiasaan lainnya yang tentu memiliki makna dan arti tertentu. Di dalam Islam, banyak sekali perumpamaan-perumpamaan, pesan non verbal, baik yang tersurat maupun tersirat. Pertanyaan yang muncul adalah, bagaimanakah keterkaitan makna dan simbol dalam proses interaksi sosial jika dilihat pada sudut pandang komunikasi? Menurut Saifuddin, simbol adalah objek, kejadian, bunyi bicara, atau bentuk-bentuk tertulis yang diberi makna oleh primer dari simbolisasi manusia adalah melalui bahasa. Tetapi manusia juga Saifuddin, Achmad Fedyani. 2005. Antropologi Kontemporer. Kencana. Jakarta Jurnal RISALAH, Vol. 29, No. 1, Juni 2018 16-19 17 berkomunikasi dengan menggunakan tanda dan simbol dalam bentuk tarian, lukisan, musik, arsitektur dan lain sebagainya. Jika demikian adanya, bagaimanakah manusia memaknai setiap simbol-simbol tersebut dalam proses interaksi sosial? PEMBAHASAN Memahami Definisi Makna dan Simbol Memahami kajian seputar simbol dan maknanya, bisa dilihat dari berbagai perspektif ilmu, khususnya sosial, linguistik dan sastra. Misalnya saja dalam perspektif Antropologi, istilah simbol sudah semenjak lama dinyatakan baik secara eksplisit maupun implisit. Edward Tylor sebagai seorang antropolog abad ke-19 menuliskan bahwa kekuatan penggunaan kata-kata sebagai tanda untuk mengekspresikan pemikiran, yang dengan ekspresi itu bunyi tidak secara langsung menghubungkannya, sebenarnya sebagai simbol-simbol arbiter adalah tingkat kemampuan khusus manusia yang tertinggi dalam bahasa, yang kehadirannya mengikat bersama semua ras manusia dalam kesatuan mental yang White dalam suatu tulisan tentang manusia sebagai spesies yang mampu menggunakan simbol menunjuk pentingnya konteks dalam makna Cassirer berpendapat bahwa tanpa suatu kompleks simbol, pikiran relasional tidak akan mungkin terjadi. Manusia memiliki kemampuan untuk mengisolasi hubungan-hubungan dan mengembangkannya dalam makna abstrak. Dari beberapa pendapat diatas, maka dalam perspektif Antropologi Simbolik memandang manusia sebagai pembawa dan produk, sebagai subjek sekaligus objek, dari suatu sistem tanda dan simbol yang berlaku sebagai sarana komunikasi untuk menyampaikan pengetahuan dan pesan-pesan. Simbol memberikan landasan bagi tindakan dan perilaku selain gagasan dan halnya dengan pendapat Umberto Eco yang menyebutkan bahwa semiotika merupakan sebuah disiplin yang mempelajari segala sesuatu yang dapat Ibid Ibid Ibid ibid digunakan untuk berdusta lie. Definisi Eco ini – meskipun mungkin sangat mencengangkan banyak orang- secara eksplisit menjelaskan betapa sentralnya konsep dusta di dalam wacana semiotika, sehingga dusta tampaknya menjadi prinsip utama semiotika itu sendiri. Eco mengemukakan bahwa “Bila sesuatu tidak dapat digunakan untuk mengungkapkan dusta, maka sebaliknya ia tidak dapat pula digunakan untuk mengungkapkan kebenaran ia pada kenyataannya tidak dapat digunakan untuk mengungkapkan apa-apa. Saya pikir definisi teori kedutaan adalah sudah sepantasnya diterima sebagai program komprehensif untuk semiotika umum.”Meskipun demikian, menurut Piliang, secara implisit dalam definisi Eco di atas adalah bahwa bila semiotika adalah sebuah kedustaan, maka ia sekaligus adalah teori kebenaran. Sebab bila sebuah tanda tidak dapat digunakan untuk mengungkapkan kebenaran, maka ia tidak dapat pula digunakan untuk mengungkapkan interaksi simbolik bermula dari interaksionisme simbolik yang digagas oleh George Herbert Mead yakni sebuah perspektif sosiologi yang dikembangkan pada kisaran pertengahan abad 20 dan berlanjut menjadi beberapa pendekatan teoritis yaitu aliran Chicago yang diprakarsai oleh Herbert Blumer, aliran Iowa yang diprakarsai oleh Manford Kuhn, dan aliran Indiana yang diprakarsai oleh Sheldon Stryker. Ketiga pendekatan teoritis tersebut mempengaruhi berbagai bidang disiplin ilmu salah satunya ilmu komunikasi. Teori interaksi simbolik dapat diterima dalam bidang ilmu komunikasi karena menempatkan komunikasi pada baris terdepan dalam studi eksistensi manusia sebagai makhluk sosial. Interaksionisme simbolik sebagai perspektif sosiologi dapat kita runut asal muasalnya saat idealisme Jerman atau pre-Sokratik, dan mulai berkembang pada akhir abad 19 dan awal abad 20 yang ditandai dengan berbagai tulisan dari beberapa tokoh seperti Charles S. Peirce, William James, dan John Dewey. Interaksionisme Piliang, Yasir Amir. 2010. Semiotika dan Hipersemiotika. Matahari. Bandung. Ibid. Hal 44-45 Ibid. Hal 45 Jurnal RISALAH, Vol. 29, No. 1, Juni 2018 16-19 18 simbolik lahir ketika diaplikasikan ke dalam studi kehidupan sosial oleh para ahli sosiologi seperti Charles H. Cooley, Thomas, dan George Herbert Mead. Dari sekian banyak ahli sosiologi yang menerapkan interaksionisme simbolik, Mead-lah yang secara khusus melakukan sistematisasi terhadap perspektif interaksionime simbolik. George Herbert Mead menjelaskan bahwa manusia termotivasi untuk bertindak berdasarkan pemaknaan yang mereka berikan kepada orang lain, benda, dan kejadian. Pemaknaan ini diciptakan melalui bahasa yang digunakan oleh manusia ketika berkomunikasi dengan pihak lain yakni dalam konteks komunikasi antarpribadi atau komunikasi interpersonal dan komunikasi intrapersonal atau self-talk atau dalam ranah pemikiran pribadi mereka. Bahasa sebagai alat komunikasi memungkinkan manusia mengembangkan sense of self dan untuk berinteraksi dengan pihak lain dalam suatu masyarakat. Dikarenakan pemikiran Mead tidak pernah dapat dipublikasikan, Herbert Blumer kemudian mengumpulkan, menyunting, dan mempublikasikan pemikiran Mead ke dalam sebuah buku bertajuk Mind, Self, and Society 1937 sekaligus memberikan nama dan mengenalkan istilah teori interaksi simbolik. Pengertian Interaksionisme Simbolik Terdapat dua pengertian mengenai interaksionisme simbolik atau teori interaksi yang diutarakan oleh para ahli, yaitu  Herbert Blumer mendefinisikan interaksionisme simbolik atau teori interaksi simbolik sebagai sebuah proses interaksi dalam rangka membentuk arti atau makna bagi setiap individu.  Scott Plunkett mendefinisikan interaksionisme simbolik sebagai cara kita belajar menginterpretasi serta memberikan arti atau makna terhadap dunia melalui interaksi kita dengan orang lain. Makna dan Simbol Dalam Proses Interaksi Sosial Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung. Pepatah tersebut merupakan penguatan tentang konsep diri manusia yang menunjukkan betapa pentingnya proses interaksi bagi manusia dimana saja ia berada. Seakan-akan, manusia itu perlu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Apabila manusia tidak menyesuaikan diri dengan lingkungannya, maka akan menggagalkan proses interaksinya sendiri. Pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang berinteraksi. Bahkan interaksi itu tidak saja eksklusif antar manusia, tetapi juga inklusif dengan seluruh kajian teori interaksionis simbolik, George Hebert Mead menekankan pada bahasa yang merupakan sistem simbol dan kata-kata merupakan simbol karena digunakan untuk memaknai berbagai hal. Dengan kata lain, simbol atau teks merupakan representasi dari pesan yang dikomunikasikan kepada publik. Menurut Mead, makna tidak tumbuh dari proses mental soliter namun merupaka hasil dari interaksi sosial atau signifikansi kausal interaksi sosial. Individu secara mental tidak hanya menciptakan makna dan simbol semata, melainkan juga ada proses pembelajaran atas makna dan simbol tersebut selama berlangsungnya interaksi sosial. Bahkan ditegaskan oleh Charon bahwa simbol adalah objek sosial yang digunakan untuk merepresentasikan apa-apa yang disepakati bisa direpresentasikan oleh simbol tersebut. Interaksi simbolis merupakan salah satu pendekatan yang bisa dilakukan dengan cultural studies. Menurut Norman Denzin dalam bukunya Symbolic Interactionism and Cultural Studies menekankan bahwa semestinya kajian terhadap interaksi simbolis memainkan peranan penting dalam cultural studies yang memusatkan perhatian pada tiga masalah yang terkait satu dengan lainnya, yakni produksi makna kultural, analisis tekstual makna-makna ini dan studi kebudayaan yang dijalani dan pengalaman yang dijalani. Namun, dalam tataran praktis Denzin melihat adanya kecenderungan dari interaksionisme simbolik untuk mengabaikan gagasan yang menghubungkan “simbol” dan “interaksi”.PENUTUP Perspektif simbolis interaksionism mendasarkan pandangannya pada asumsi bahwa Mufid, Muhammad. 2010. Etika dan Filsafat Komunikasi. Kencana. Jakarta Nasrullah, Rulli. 2012. Komunikasi Antar Budaya di era Budaya Siber. Kencana. Ibid Ibid Jurnal RISALAH, Vol. 29, No. 1, Juni 2018 16-19 19 manusia mengembangkan satu set simbol yang kompleks untuk memberi makna terhadap dunia. Karenanya makna muncul melalui interaksi manusia dengan lingkungannya. Lingkungan pertama yang memengaruhi pembentukan makna adalah kelurga. Keluarga adalah kelompok sosial terkecil dan individu mengembangkan konsep diri dan indetitas melalui interaksi sosial tertentu. DAFTAR PUSTAKA Saifuddin, Achmad Fedyani. 2005. Antropologi Kontemporer. Kencana. Jakarta Piliang, Yasir Amir. 2010. Semiotika dan Hipersemiotika. Matahari. Bandung. Mufid, Muhammad. 2010. Etika dan Filsafat Komunikasi. Kencana. Jakarta Nasrullah, Rulli. 2012. Komunikasi Antar Budaya di era Budaya Siber. Kencana. ... Herbert Blumer defines symbolic interaction as an interaction process to form meanings or meanings for all individuals then Scott Plunkett defines it as the way individuals learn to interpret and give meaning or meaning to the world through the interactions of one individual with another Haris & Amalia , 2018. ... Citra Rosalyn AnwarAndrianiThis article provides an overview of parents and children who build communication through KPop. This article becomes interesting to discuss because of the increasing popularity of the Korean Wave in Indonesia. Negative stigma also accompanies parental anxiety about their children's liking for the Korean Wave, especially KPop. In addition, there are problems with parents who find it difficult to build communication with their children. This article provides an overview of how parent-child communication is actually built through KPop. This article is the result of a qualitative study on three pairs of mothers and children in Makassar. The results of the study show that communication is very well established between mother and child, with the role of this Hallyu Wave... Bahasa yang digunakan manusia untuk berinteraksi satu sama lain baik dalam konteks komunikasi interpersonal, komunikasi intrapersonal, selftalk, atau dalam ruang pemikiran pribadi mereka membantu mengkonstruksi makna tersebut. Manusia dapat terlibat dengan anggota masyarakat lainnya dan menciptakan kesadaran diri berkat bahasa sebagai alat komunikasi Haris & Amalia, 2018. Kajian tentang pola interaksi manusia, yaitu bagaimana manusia berinteraksi satu sama lain dan dengan kelompok, menjadi penekanan utama teori interaksionisme simbolik. ...Sari Tri AnjaniIskandarsyah SiregarThis study analyzes how the existence of Palang Pintu Betawi culture and the understanding of the meaning of using Palang Pintu in Betawi traditional weddings. The purpose of this research is to look for strategies for restoring the Betawi traditional Palang Pintu culture. The theory used is George Herbert Mead's symbolic interaction theory. The method used in this study is the qualitative research method of Cresswell, The nature of this research is descriptive. By using the questionnaire method as data collection. The results obtained are an explanation of how the existence of Palang Pintu culture as an opening in the Betawi traditional event. As well as what strategies can be implemented to restore the Betawi culture which is almost extinct... Pandangan tersebut menegaskan bahwa teori interaksi simbolik merupakan sebuah proses pemaknaan secara terus menerus atau berkelanjutan saat percakapan berlangsung terhadap bahasa dan gerak tubuh gesture dalam menghadapi antisipasi bagaimana reaksi orang lain. Pandangan lain juga dikemukakan oleh Scott Plungkett mengatakan bahwa teori interaksi simbolik berbicara tentang cara manusia menginterpretasi dan mengartikan sesuatu atau cara manusia memaknai dunianya melalui interaksinya dengan orang lain dalam Haris & Amalia, 2018. Sementara dalam pemikiran LaRosa dan Donald C. Ritzes seperti dikutip dalam Siregar 2011 sebagai membentuk dunia simbolik secara bersama. ...Benedictus SimangunsongFelisianus N. RahmatAbstrak Budaya memainkan peran yang sangat penting dalam politik karena menjadi cerminan masyarakat dalam menentukan sikap dan pilihan politik atau membentuk karakteristik masyarakat dalam berpolitik. Contoh dari hubungan antara budaya dan politik bisa tergambarkan pada isu kekerabatan pada pilkada Manggarai Barat 2020 yang dibahas dalam penelitian ini. Fenomena kekerabatan yang dimaksud adalah adanya kecenderungan dari masyarakat Manggarai Barat pada umumnya untuk memilih pemimpin yang seasal atau karena faktor kekerabatan dan kekeluargaan atau dikenal sebagai budaya lonto leok yang masih kuat mempengaruhi kehidupan masyarakat termasuk politik. Penelitian ini menggunakan paradigma interpretif dengan metode penelitian Fenomenologi. Adapun pengumpulan data penelitian dilakukan dengan data primer yaitu melakukan wawancara mendalam dan dokumentasi serta data sekunder berupa studi kepustakaan. Wawancara dilakukan kepada para informan yang melakukan lonto leok menjelang Pilkada Mabar Tahun 2020 dan juga pada pilkada-pilkada sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna kekerabatan dalam budaya lonto leok pada proses pilkada di Manggarai Barat adalah kebersamaan dan ketergantungan. Sementara peran budaya lonto leok dalam proses politik adalah pada saat pengambilan keputusan dan menumbuhkan ikatan kekerabatan. Kata kunci Budaya, Politik, Kekerabatan, Lonto Leok, fenomenologi, makna kekerabatan Abstract Culture plays a very important role in politics because it reflects the everyday life of society in determining political attitudes and choices or shaping the characteristics of society in politics. One of them many examples about the relationship between culture and politics can be illustrated in the issue of kinship in the 2020 West Manggarai regional election discussed in this study. The kinship phenomenon in question is the tendency of the West Manggarai community in general to choose leaders who are in the same kinship and it is known as the lonto leok culture which still strongly influences people's life, including politics. This study uses an interpretive paradigm with phenomenological research methods. The research data collection was carried out with primary data, namely conducting in-depth interviews and documentation and secondary data in the form of literature study. Interviews were conducted with informants who conducted lonto leok ahead of the 2020 Mabar Pilkada and also in the previous pilkada. The results showed that the meaning of kinship in the lonto leok culture in the election process in West Manggarai was togetherness and dependence. Meanwhile, the role of lonto leok culture in the political process is at the time of making decisions and fostering kinship ties. Keywords Culture, Politics, Kinship, Lonto Leok, phenomenology, meaning of kinship... Makna simbolik merupakan konstruksi simpel yang terdiri dari objek, gambar, suara, aksi, gestur, ucapan dan tentu saja sesuatu yang memiliki arti tertentu. Sesuatu tersebut merupakan simbol yang merepresentasikan fenomena dan kejadian-kejadian dari kacamata sosial maka terdapat hubungan antara makna secara tersirat dengan makna dalam bentuk simbol Ahmadi, 2008;Haris & Amalia, 2018. ...Isnaini IndrawatiSiti MuyasarohZainul AhwanThis study aims to find out and raise the symbolic meaning and how communication events, communication situations, communication patterns and communication actions at district ceremonies and larung lumpeng in Lake Ranu Ranuklindungan Village, Grati District, Pasuruan Regency. The symbolic meaning in district ceremonies and larung tumpengmenarik to be researched, considering that there are many aspects of communication that have not been scientifically raised, especially in the realm of Communication Science. This research uses a qualitative descriptive paradigm approach, with focus group discussion FGD data collection methods and document analysis. The theory used is the theory semiotics of charles sanders pierce which is related to symbols and interactions in the Distrikan and Larung tumpeng ceremonies, semiotics of charles sanders pierce by prioritizing 3 models of semiotiks Charles Sanders Pierce, namely Icon, Simbols and Index. In Semiotiks concept the communication pattern shown is in 3 times of distrikan ceremonial, that can create several symbols as a medium, as well as expressed in the form of prayers and mantras to interact with God through the intermediary of The New Klinting As Bahu Rekso Danau Ranu. And by using the context of the minds of the people around Lake Ranu who take a role or action as a symbolic ability to place themselves in the implementation of the District and Larung tumpengdi Lake Ranu ceremonies, Ranuklindungan Village, Grati District as a form of symbolic. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengangkat makna simbolik serta bagaimana peristiwa komunikasi, situasi komunikasi, pola komunikasi dan tindakan komunikasi pada upacara distrikan dan larung lumpeng di Danau Ranu Desa Ranuklindungan Kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan. Makna simbolik dalam upacara distrikan dan larung tumpeng menarik untuk diteliti, mengingat ada banyak aspek komunikasi yang belum diangkat secara ilmiah terutama dalam ranah Ilmu Komunikasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan paradigma deskriptif kualitatif, dengan metode pengumpulan data Focus Group Discussion FGD dan analisis dokumen. Teori yang digunakan adalah teori semiotika charles sanders pierce yang berkaitan dengan simbol dan interaksi yang ada didalam upacara distrikan dan larung tumpeng, semiotika charles sanders pierce dengan 3 model analisis semiotik Charles Sanders Pierce yakni Ikon, Simbol dan Indeks. Kesimpulan penelitian menunjukkan dalam model semiotik komunikasi yang ditunjukan adalah komunikasi pada tiga waktu upacara distrikan yakni pembukaan, prosesi dan penutup yang dapat menciptakan beberapa simbol dalam tanda-tanda fenomena upacara distrikan serta dituangkan dalam bentuk doa dan mantra untuk berinteraksi dengan Tuhan melalui perantara Baru Klinting Sebagai Bahu Rekso Danau Ranu, dengan menggunakan konteks pikiran masyarakat sekitar Danau Ranu, yang mengambil peran atau tindakan sebagai kemampuan simbolis untuk menempatkan diri dalam pelaksanaan upacara Distrikan dan larung tumpeng di Danau Ranu Desa Ranuklindungan Kecamatan Aprianti YusmidahHadawiah HadawiahAhdan AhdanPenelitian ini Bertujuan penelitian ini adalah 1 Bagaimana Komunikasi Antarbudaya Suku Bugis dan Suku Tidung di Kalimantan Utara Studi Pada masyarakat Kelurahan Gunung Lingkas Kota Tarakan. 2 Bagaimana Bentuk Adaptasi Budaya Suku Bugis Terhadap Suku Tidung di Kalimantan Utara Studi Pada masyarakat Kelurahan Gunung Lingkas Kota Tarakan. Penelitian ini berlangsung selama satu bulan dan berlokasi di wilayah Kalimantan Utara Kelurahan Gunung Lingkas Kota Tarakan dengan informan sebanyak 8 delapan orang dimana mereka merupakan orang yang berasal dari Suku Bugis dan Suku Tidung. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian kualitatif, dengan teknik pengumpulan data dilakukan melalui dua cara, yakini data primer dan data sekunder. Adapun metode pengumpualan data dengan melakukan observasi, wawancara, dokumentasi, studi pustaka dan metode fonomenologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi sudah terjadi sejak dahulu dan hidup berdapingan, serta tejadi perkawinan antar suku, dan semua makhluk sosial memerlukan intraksi untuk melakukan proses komunikasi adaptasi terutama dari Suku Bugis selaku suku pendatang. Adanya perbedaan budaya antara Suku Bugis dan Suku Tidung tidak menjadi sebuah masalah selagi itu baik dan tidak Rofifah MarzukiAhdan AhdanSitti RahmawatiNur Rofifah Marzuki. 06520180145. Makna Simbolik Komunikasi Budaya Dalam Tradisi Kamba-Kambano Dho Gaa Pada Masyarakat Rumpun Bombonawulu, Kecamatan GU, Kabupaten Buton Tengah Tujuan dari penelitian ini adalah 1 Untuk mengetahui makna simbolik dalam tradisi kamba-kambano dho gaa pada masyarakat Rumpun Bombonawulu, Kecamatan GU, Kabupaten Buton Tengah. 2 Untuk mengetahui bentuk komunikasi budaya dalam tradisi kamba-kambano dho gaa pernikahan pada masyarakat Rumpun Bombonawulu, Kecamatan GU, Kabupaten Buton Tengah. Adapun jenis penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara semiterstruktur, dan dokumentasi. Informan penelitian adalah tiga tokoh adat dan dua masyarakat yang terlibat dalam proses pelaksanaan tradisi kamba-kambano dho gaa. Dalam menganalisis data menggunakan teknik analisis data dari Miles dan Huberman menggunakan tiga teori yaitu teori interaksi simbolis, teori semiotika, dan teori folklor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tradisi Kamba-Kambano Dho Gaa bagi masyarakat Rumpun Bombonawulu dilakukan saat seorang anak laki-laki secara biologis sudah memiliki dasar-dasar kemampuan jasmani berupa ketangkasan dan randaa. Bagi anak perempuan ditandai dengan telah mengalami masa haid dan telah memiliki kemampuan membantu atau mengurus rumah tangga. dalam prosesi pelaksanaan tradisi Kamba-Kambano Dho Gaa dilakukan tahap demi tahap. Seperti tahap nofecilae mengintip, Feenagho losa menyampaikan lamaran, de owa losa membawa lamaran, persiapan isi gambi pernikahan, pengantaran gambi, do kala powowo pergi tinggal, haroa baca doa, mo’ato akad nikah, fewaniu ae mencuci kaki, dengkoha do kawi duduk kawin, kafeinao no pakawi nasehat dan ijab qabul, pesua lambu moane kerumah suami. Di setiap tahapan ini memiliki makna simbolikPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan kelekatan diantara mahasiswa dalam pembelajaran daring di masa pandemi Covid-19. Kajian ini dilatarbelakangi oleh kondisi pembelajaran daring yang menyebabkan keterbatasan mahasiswa dalam berinteraksi dan bersosialisasi secara tatap muka sehingga hubungan kelekatan diantara mahasiswa menjadi terhambat. Penelitian ini di kaji dengan pendekatan Study kasus, dengan metode deskriptif. Data diperoleh melaui survei yang dilakukan kepada mahasiswa baru program studi pendidikan PKN FKIP Universitas Mataram kemudian diolah melalui proses pengumpulan, penyajian dan pengambilan kesimpulan. Ada beberapa temuan yang menjadi dasar mengapa pola pembelajaran daring menghambat proses hubungan kelekatan diantaranya; 1 sebagian besar mahasiswa belum pernah bertemu secara langsung dengan teman sekelasnya sehingga hanya sebagian kecil dari mereka yang saling mengenal, 2 Mahasiswa tidak memiliki teman dekat di kelasnya sehingga sebagian besar dari mereka belum pernah kumpul ataupun bermain bareng; 3 meskipun komunikasi diantara mereka masih berjalan baik akan tetapi semua dilakukan hanya melalui media sosial atau Chating. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hubungan kelekatan diantara mahasiswa dalam pembelajaran daring tidak terbentuk karena mahasiswa tidak memiliki cukup ruang dan waktu untuk mengenali lebih dalam. Kondisi tersebut tidak memberikan kesempatan mahasiswa untuk saling mengidentifikasi, sehingga tidak terjadi proses simpati, dan empati dan akhirnya hubungan kelekatan tidak SaadahAmriana AmrianaChange does not always have a negative impact on the living system, there are positive values ??that can always be learned from a change. In social communication, for example, individuals and groups have a stake in making choices about communication methods. This paper specifically describes how changes in parental communication modes in building children's career motivation. In this paper, the method used is a qualitative descriptive method where the technique is a literature study data collection technique, namely looking for relevant literature on online news pages on the internet. Content analysis is used by reading and interpreting data to describe how changes in parental communication modes with children affect children's career motivation. The findings in this paper show that changes in technology-based communication modes in building motivation provide space for children to represent their desires in the career field. In addition, parents in this case also provide positive feedback on children's choices, so as to create healthy relationships that can make children feel accepted and heard within the family and communityDindin SaepudinThe purpose of this study is to determine the communication strategy of lecturers in building understanding of PTNBH at the Bandung Institute of Technology. Communication is a fundamental thing in human life, even communication becomes a phenomenon for the formation of a society or community integrated by information, where each individual in the society itself shares information sharing to achieve common goals. In simple terms, communication can occur if there is a similarity between the person who conveys the message and the person who receives the message. The research method that researchers use is a descriptive research method with a qualitative type through historical methods, namely research that studies a principle that occurs in the present and in the past based on the traces obtained. As a result of the research that has been carried out, it can be concluded that the things behind ITB implementing its public communication strategy are in building a common understanding of various matters related to the change in the status of PTN to PTN-BH. The institution, in this case the ITB Public Relations, carries out interaction activities through a public communication strategy where everyone can respond to each other and monitor the situation so that a common understanding of the background of changes in the status of the institution is formed; The public communication strategy is also carried out in reducing and providing solutions to the unrest that occurs in the ITB academic community. In this study, stakeholders focused on ITB students Departing from intense interactions, various integrated habits of all ITB academics were constructed to achieve common goals successSemiotika dan Hipersemiotika. MatahariYasir PiliangAmirPiliang, Yasir Amir. 2010. Semiotika dan Hipersemiotika. Matahari. dan Filsafat KomunikasiMuhammad MufidMufid, Muhammad. 2010. Etika dan Filsafat Komunikasi. Kencana. Jakarta Nasrullah, Rulli. 2012. Komunikasi Antar Budaya di era Budaya Siber. Kencana.

bagaimana cara manusia memaknai simbol